HAPPY MIND, HAPPY LIFE

True story of a friend :

4da1aed62de598b9b3962355898d2821

Ketika Usaha mu di nilai tidak penting, maka saat itulah kamu sedang belajar tentang keikhlasan”

sesuai dengan quotes di atas, seorang teman bercerita mengenai kehidupan rumah tangganya. yang baru ia bina sekitar 2 tahun kurang. usia pernikahan yang masih sangat muda. sudah di karuniai 1 orang puteri. dia sama seperti saya, bukan seorang wanita Karir, setelah menikah ia memutuskan untuk menjadi Ibu rumah tangga. sebut saja nama teman saya itu Jelita.   Ia merasa suaminya sudah tidak seperti dahulu. yang selalu berbicara dengan konotasi yang rendah, akhir-akhir ini suaminya selalu mudah emosi, kalau di mintai tolong seperti tidak ikhlas, selalu di awali dengan emosi. tapi ternyata Jelita bilang suaminya sudah mulai berubah semenjak ia hamil. memang sih, suaminya kalau kerja pulang selalu tepat waktu, tidak pernah telat. selalu berusaha pulang cepat karena saat itu istrinya sedang hamil. ia merasa suami nya sedang di atas angin, dimana posisinya seperti yang merasa dibutuhkan sehingga berperilaku semaunya. berbeda saat mereka masih pacaran dulu, ketika Jelita mengeluh sakit, sang suami banyak memberikan perhatian, setelah menikah, saat jelita mengeluh sakit, suami malah marah padahal jelita juga tidak membutuhkan yang lain, hanya ingin mengeluh kepada suami dan di beri sedikit perhatian, ketika fisik terasa sakit, batin pun ikut sakit. Jelita bilang sebenarnya setelah menikah ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak mau cerita atau curhat soal rumah tangga kepada siapapun termasuk kepada keluarga khusunya orang tua. tapi, saya pun merasakan apa yang di rasakan jelita, sebagai ibu rumah tangga yang daerah kekuasaannya hanya sebatas di rumah, berbeda dengan ibu pekerja yang mungkin bisa saja meluapkan emosi atau kekesalannya ke teman kantor atau sekedar ke mall untuk refreshing. Mungkin itulah salah satu kejenuhan seorang Ibu rumah tangga, ketika yang dibutuhkan itu hanya sekedar teman berbicara.

Jelita bilang, sebelum menikah memang ia nakal, ia pernah selingkuh. karena posisinya saat itupun dia sedang merasa di atas angin juga. sang suami memohon-mohon dan jelita dengan angkuhnya pun mengacuhkannya. hingga akhirnya sampailah dimana mereka memutuskan untuk menikah karena Jelita juga tidak mau menikah dengan selingkuhannya karena banyak sebab. Setelah menikah, semua berubah Jelita sudah tidak mau memikirkan lagi mantan selingkuhannya itu, tapi jangan salah, Jelita berselingkuh juga ternyata sebelumnya sang suami pun pernah berselingkuh. Yap ! saya pun merasakan hal yang sama, dimana karma itu pasti berlaku, walaupun Jelita tidak berniat selingkuh, siapa sih yang bisa membolak balikkan hati. saya pun tau saat Jelita dulu pernah terpuruk juga saat sang suami berselingkuhPEOPLE WHO CREATE THEIR OWN DRAMA. DESERVE THEIR OWN KARMA. kirain hanya saya yang merasakan hal seperti itu, ternyata memang itu fase kehidupan. percayalah karma memang ada gengs!

kadang sepertinya harus berterimakasih juga dengan masa lalu. kalau tidak melalui jalur seperti itu mungkin hari ini pun tidak mungkin seperti ini. saya dan suami pun sudah merasakan bagaimana rasanya disakiti dan menyakiti, selingkuh dan di selingkuhi. so,  saya sudah tidak aneh lagi kenapa banyak orang yang berselingkuh. ya! karna saya pernah tau rasanya, emang sulit di deskripsikan, intinya manis di awal, akhirnya yaaa gitu deh.

oops! saya jadi keikutan baper inget masa lalu.  balik lagi ke curhatan Jelita, ia bilang setelah menikah dia mau fokus dengan keluarganya, tidak mau lagi mengenang masa lalu nya. apalagi tidak lama setelah menikah Jelita langsung hamil, jelas saja dia akan fokus dengan kehamilannya juga. kurang lebih waktu usia kehamilannya sekitar 2 bulan, ia sedang ngidam ingin makan Richeese, saat itu suaminya ngga mau pergi dan malah marah-marah. sontak saja Jelita ikutan sedih, di tambah kondisinya lagi ngidam. karena lelaki tak tau rasanya kalau ngidam itu seperti apa dan kalau ngga di turutin sedihnya seperti apa ahhaa. dari situlah suaminya mulai terlihat sering marah-marah lagi. (memang sih katanya marah-marahnya atau galaknya saat ini ngga sejahat dulu waktu dia pas waktu selingkuh) cuma kurang lebih sekarang karena sudah menikah juga suaminya mungkin sudah merasa jelita tidak akan lari kemana-mana lagi. dan jelita pun maunya mempertahankan pernikahannya dengan tidak mau cari gara-gara. hanya saja menurut Jelita, sekarang-sekarang ini disaat Jelita ingin berniat baik ingin menyenangkan suaminya pasti selalu salah, dan bikin suaminya marah. ya! itu bikin jelita frustasi. kenapa selalu salah. kenapa niat selalu tidak sesuai dengan realita. Yap, pada intinya Jelita hanya ingin belajar lebih baik. niatnya selalu di patahkan suaminya, suaminya selalu menganggap Jelita tidak bisa, kurang lebih tampak melecehkan, seolah tak percaya bahwa jelita Bisa. Jelita selalu di anggap tidak bisa melakukan pekerjaan multitasking, yang melakukan pekerjaan lebih dari satu. Kata siapa ? Sebelum menikah, Jelita sama seperti saya, Pemalas. tidak pernah melakukan pekerjaan rumah sama sekali, jarang di rumah, dan suka jajan. setelah menikah dan akhirnya punya anak semua pekerjaan dia belajar harus manage dengan baik, harus tau kapan jam anaknya bangun, harus tau kapan waktunya menyetrika baju, mencuci baju, beres-beres rumah. itu semua harus di lakukan saat anaknya tidur. kalau pas bangun, ya waktunya hanya untuk anaknya. gak mungkin kan anaknya di anggurin haha. dan berusaha setiap suaminya pulang rumah keadaan rapi. itu sungguh pekerjaan yang hebat untuk jelita, karena seumur hidupnya itu dia malas-malasan. dan selalu berantakan. perubahan yang drastis.

Saya pernah bertanya, apa kamu menyesal menikah dengannya? jawabannya Tidak. saya selalu bersyukur bisa menikah dengan dia, saya kenal lama dengan dia, saya tau saat dia jahat seperti apa, saat dia berubah menjadi baik seperti apa. walaupun dia seperti itu, dia masih lebih baik dari pada orang lain , menurut saya. kalau saya menyesal, trus saya mau apa ? saya tidak mau punya rasa menyesal, mungkin memang kalau berumah tangga seperti itu, tidak mungkin selalu lurus. konflik selalu ada, tinggal kita menyikapinya seperti apa. dan nikmatilah. walaupun dia seperti itu, dia suami saya, saya sayang dia, dia sayang saya dan keluarga kecil saya, hanya mungkin cara penyampaian dan timing kami selalu salah sehingga kami selalu bertengkar. lalu, kalau dia tau ini adalah resiko suatu pernikahan, kenapa dia harus panjang lebar cerita sama saya? oh yaa ternyata dia hanya butuh teman untuk mencurahkan keluh kesahnya sementara, dia tidak berani lagi cerita dengan lawan jenis, yap pengalaman saat sedang menhadapi masalah kemudian cerita dengan lawan jenis, malah timbul kenyamanan tersendiri. kita sudah menikah bro! jaga jarak aja dengan lawan jenis, kita tidak akan pernah tau kedepannya seperti apa, lebih baik mencegah sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. dia hanya ingin suaminya memperlakukan dia dengan baik dan tidak berbicara keras lagi. walaupun kadang suaminya itu katanya kalau marah tidak lama kemudian dia minta maaf. marah suaminya itu sebentar tapi kata-katanya cukup menyakitkan. sehingga refleks Jelita selalu menangis di buatnya. Apa dia harus melakukan semuanya sendiri lagi seperti dia sebelum menikah? kalau suaminya di mintai tolong selalu marah. tapi kalau melakukan sendiri, suaminya merasa tidak di hargai, so? serbasalah memang jadi wanita.

 

dari cerita di atas, kesimpulannya adalah hidup rumah tangga itu rumit, kadang mudah di jalani tapi kadang juga terasa berat. Pilihan untuk menjadi Ibu rumah tangga sebenarnya bukan pilihan sulit, tapi awalnya saya memang tidak berniat jadi IRT, semenjak menikah dan hamil, sayapun memutuskan untuk menjadi IRT, dengan sendirinya keinginan itu muncul. menjadi IRT pun ternyata tidak mudah, mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak selesai, dari pagi ketemu malam masih selalu ada pekerjaan segunung, di tambah sekarang sudah punya bayi (walaupun kadang segitu masih di anggap saya tidak melakukan apa-apa, apalagi kalau sehari berantakan, di anggapnya saya masih jadi seorang pemalas, padahal sakiyeu ge uyuhan , dari anak pemalas seperti saya bisa melakukan kerjaan rumah, menurut saya ini suatu kebanggaan tersendiri, dan masih saja selalu di remehkan, resiko anak pemalas begitu, selalu di cap malas meski berniat berubah hahaha ) selain itu IRT pun membutuhkan teman bicara, butuh hiburan. saya selalu mencari cara supaya saya tidak bosan di rumah, untung saja di rumah saya ada fasilitas wifi yang bikin otak saya cukup segar, bisa semangat melakukan sesuatu. bisa mencari inspirasi dan tentunya bisa berjualan online. terimakasih teman, sudah berbagi pengalaman. Sebut dia Jelita karna nama asli disamarkan. hahaha

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s