MENDAKI GEDE-PANGRANGO

image

image

image

saat sedang sibuk membersihkan data-data di komputer, saya melihat folder foto sewaktu saya nanjak gunung gede pangrango bulan 25 april tahun 2014 lalu. itu memang pendakian saya yang tertinggi, karena sebelumnya saya hanya nanjak gunung yang tidak sampai puncaknya. seperti burangrang, manglayang, sukawarna . yang paling berkesan memang saat saya nanjak gunung gede pangrango ini tingginya sekitar 3.019 Mdpl. saat itu saya pergi bersama teman SMA saya, Putri atau biasa disapa ii, uut, put. selain itu uut juga mengajak Icha adiknya yang suka nanjak juga. saya hanya ingin mencari pengalaman bisa muncak dan ternyata memang tidak gampang. kondisi fisik saya memang sewaktu beres kuliah itu mendadak gampang drop. padahal waktu kuliah saya sering pergi kemping bersama anak anak komunitas kampus dan itu tidak masalah. ternyata kondisi berbeda saat saya nanjak gunung pangrango ini. saya dari karawang berangkat jam 6 sore dan sampai jakarta sekitar pukul 8 karena terjebak macet. dan rombongan berkumpul di kampung rambutan. setelah semuanya berkumpul , mungkin kurang lebih sekitar 11 orang yang berangkat. dan kita memang ngeteng ke arah cianjur dan sampai sana sekitar pukul 1 atau 2 dini hari (lupa) sekitar jam segitu lah. kami istirahat.

image

sesampainya disana, kami mampir di warung nasi sambil isi perut. sekitar jam 3 setengah 4 saat langit masih gelap, ternyata banyak juga pendaki lain yang mau nanjak juga. bermodal senter kita semua mulai nanjak. satu atau dua jam berlalu kita masih bisa cengar cengir. semakin kesana kita sudah mulai lelah. jalan pun semakin lambat. dan entah kenapa saya pun merasa sangat benar-benar lelah dan merasa sesak nafas. karena saya juga merasa tidak mau menghambat perjalanan, mau tidak mau harus tetap berjalan.  dan satu hal saya ambil pelajaran saat naik gunung adalah, kita bisa menilai sifat asli seseorang loh. dari yang egois, peduli sampai yang engga peduli. kalau pas naik gunung emang yang kita fikirin itu cuma pengen cepet sampe dan ngga peduli mau duduk dimana atau tiduran dimana. sewaktu mau sampai, tiba-tiba ada orang yang menawarkan diri untuk membawakan keril nya sampai ke surken, laki-laki itu bernama bang raka. ahhaa tau aja kalo saya udah bener bener lelah bawa keril dia emang suka nanjak dan yang membantu kita juga selama membangun tenda.  jam 2 siang kita sampai di area perkemahan suryakencana , ternyata cuaca kurang mendukung, baru sampai kesana ternyata hujan besar. disaat kita mencari posisi tenda, ternyata hujan deras dan akhirnya semua baju basah total. salah nya tidak punya jaket waterproof. memang sangat luarbiasa melihat pemandangan padang edelweis karena baru pertama kalinya saya melihat edelweis. tapi ternyata sangat disayangkan disana sekumpulan tanaman edelweis nya untuk area buang air. karena memang tidak ada toilet. setelah hujan reda, sisa tinggal kabut. yang hampir membuat tanaman edelweis tidak terlihat. dan memang ini terlihat seperti surga nya para pendaki untuk berkemah.
image

semakin malam hawa semakin dingin. dan saya sempat merasa benar-benar tidak enak badan. malah putri dan icha menganggap saya seperti yang kena hipotermia. karena tiba tiba badan saya mendadak  menggigil dan sempat mengigau saat tidur. saat itu saya di bangunkan dan di buatkan teh hangat. gimana badan saya tidak enak, keadaan badan masih lembab bekas kehujanan tadi, ditambah hawa nya pun memang benar-benar dingin.

keesokan paginya kami mulai melanjutkan pendakian ke puncak pangrango, beberapa teman juga ada yang ingin melanjutkan juga ke puncak gede. tapi kayanya saya tidak sanggup. kaki benar-benar sakit. dari suryakencana menuju puncak pangrango masih terbilang dekat. hanya sekitar 2 jam perjalanan (kurang lebih) . sambil berjalan pelan-pelan ngobrol dengan teman baru, ada mas isman, laili, ada lia. sepanjang jalan, mas isman yang menemani jalan sambil ngobrol sana sini. untunglah si mas ini mau nemenin jalan saya yang pelan-pelan . hehee

image

image

jam 12 siang sesampainya di puncak dan sangat disayangkan akibat hujan ternyata di atas berkabut. dan lebih tidak menyenangkan ternyata gerimis. akhirnya memutuskan menggunakan jas hujan selama perjalanan turun gunung. ternyata turun gunung jauh lebih menyakitkan pada saat itu, kaki yang semulanya baik baik saja , mendadak bermasalah. jam sore setelah sempat istirahat dikandang badak,

image
istirahat dikandangbadak

tapi ternyata kaki saya mendadak sulit di ajak berjalan. perkiraan sudah sekitar jam 10 malam sudah bisa sampai di bawah dan bisa segera balik ke jakarta, ternyata prediksi jauh lebih molor. kaki ini rasanya benar-benar tidak bisa di angkat, hiks. beruntunglah waktu itu selain mas isman saya juga di temani 2 laki-laki fikri dan reza. dan ada satu teman cewek juga, zakia namanya. sebenarnya ngga enak banget jadi mengganggu perjalanan mereka. karna harus membantu saya berjalan. dan saat itu saya pun harus buru-buru sebelum magrib kita harus sudah melewati cipanas. karena kalau sudah malam, jalur nya curam jadi berbahaya. alhamdulillah saat itu tepat hari hampir mau gelap saya dan kawan yang lain sudah bisa melewati cipanas itu, dan memang ternyata sangat curam. sepanjang jalan saya hanya berdoa ingin segera sampai, kaki sudah ngga kuat. ditambah air minum habis, ditengah perjalanan kami bertemu pendaki lain dan dia menawarkan teh panas, sembari meluruskan kaki. perjalanan masih sangat jauh. perasaan takut di tengah-tengah hutan pun hilang. melihat kiri kanan pun tidak ada pikiran akan bertemu hantu atau binatang apapun, yang di pikiran saya ingin segera sampai. selama perjalanan, tenggorokan benar-benar kering dan sangat butuh air, bertemu lagi beberapa pendaki dan memberitahu ada sumber mata air, tapi masih agak jauh, mereka pun membagi air mereka kepada kami. pelajaran yang ditangkap pada waktu itu, walaupun kami tidak kenal, para pendai itu memiliki rasa solidaritas yang tinggi dan membantu sesama, selain itu ada juga loh yang menawarkan jasa panggul keril. tapi karna tidak kenal saya pun meski tidak sanggup berjalan, saya tidak mau menitipkan tas saya. ditambah kan waktu sudah terlalu gelap dan kondisi saya pun tidak memungkinkan kalau harus bermasalah lagi dengan tas. jadi saya memutuskan untuk membawanya sendiri.

image

jalurnya sudah semakin dekat, dan kaki benar-benar sudah sangat tidak sanggup, perjalanan pun akhirnya sampai, sekitar jam  malam. salah satu rombongan ada yang memasang wajah cemberut dikarenakan saya lama sampainya. kalau saja kaki saya tidak bermasalah, saya tidak masalah. bukan hanya dia yang keesokan harinya harus bekerja, saya pun sama. akhirnya pukul 5 sore kami sampai di jakarta. dan memutuskan untuk bolos kerja. sesampainya di jakarta, keluargapun panik karena tidak ada kabarnya, karena memang di gunung sulit sinyal, batre lowbet  pun sulit mencharge, ditambah jaringan tidak bagus sehingga baterai jadi cepat habis.

perjalanan ini membuat saya sedikit kapok, karena saya merepotkan orang lain. kalau ada yang ingin mendaki, sekiranya fisik belum siap, lebih baik memang jangan memaksakan. entah kenapa juga kaki saya yang tadinya sehat-sehat saja pas turun gunung mendadak sulit bergerak. positifnya bagi saya, saya memiliki pengalaman cukup menarik dari perjalanan ini, saya bisa menilai bahwa pendaki memang sangat solider, mungkin selanjutnya perjalanan saya bukan mau mendaki lagi, lebih baik ke pantai saja kali ya ahhahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s